Mari bicara soal laki-laki.
Laki-laki, mari kita bicara. Soal kodrat.
Capek sebenarnya membicarakan kodrat. Kodrat perempuan sudah lama diperdebatkan: perempuan masak untuk suami, kodratkah? Perempuan mengurus anak, kodratkah? Kalau perempuan bekerja, lupakah ia pada kodrat? Ataukah kodrat perempuan digeser menjadi kodrat pembantu rumah tangga? Pembantu rumah tangga lantas punya dua beban: kelas bawah dan kelas perempuan. Dua-duanya, kodratkah?
Karena melelahkan perdebatan yang tidak pernah dicari ujungnya itu, mari kita bicara soal kodrat laki-laki saja. Apakah kodrat laki-laki?
Mencari nafkah, kodratkah? Menjadi kuat, kodratkah? Dingin dan beku, kodratkah? Dimasaki istri, kodratkah? Menyeleweng, kodratkah? Agresif, kodratkah?
Apakah kodrat? Kodrat itu apa?
Kode-kode genetik? Kode-kode ketuhanan yang asal-asalan?
Salah-satu subyek yang kerap mengena di pikiran murid-murid saya, terutama laki-laki, adalah ketika kita mendiskusikan soal “Kode Lelaki.” Mungkin murid-murid saya juga capek berbicara soal emansipasi perempuan – karena semua perbincangan mengenai emansipasi adalah mengenai bagaimana perempuan “mengejar” laki-laki: mengejar karier “seperti laki-laki,” mencari nafkah “seperti laki-laki.” Tapi kesenjangan yang sistematis masih saja terjadi. Diskriminasi terus ada.
Ya, betul, perempuan telah memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dilakukan laki-laki. Tapi bagaimana dengan sebaliknya? Selama ini kita hanya berlari satu arah. Seakan-akan hanya ada satu tujuan.
Ya sayang, perkenalkan: the stalled revolution.
Kenapa jarang sekali kita berbicara soal emansipasi laki-laki? Bagaimana caranya agar laki-laki bisa “mengejar” perempuan: mengurus anak “seperti perempuan,” berekspresi secara emosional “seperti perempuan.” Bersedih “seperti perempuan.” Memasak di dapur rumah “seperti perempuan.” Mencuci piring “seperti perempuan.” Tidak ada aturan yang berkata bahwa memiliki penis melumpuhkan potensi dan kemampuan seseorang untuk melakukan semua itu dengan baik.
Pembelajaran peran seperti ini masih dirasa tabu oleh masyarakat. Perempuan “menjadi laki-laki” lebih dirasa wajar daripada laki-laki “menjadi perempuan.” Mengapa?
Masyarakat menghukum anak laki-laki yang bermain boneka. Orang tua menghukum anak laki-laki yang cengeng, hanya karena ia laki-laki. Laki-laki yang dianggap feminin dihukum dengan keras – lebih keras daripada perempuan yang tomboy. Laki-laki yang feminin dianggap bukan laki-laki sejati. Padahal kita jarang berpikir: siapa yang menentukan bahwa feminin sama dengan emosional, dan maskulin sama dengan tegar dan beku?
Siapa yang mereduksi laki-laki menjadi seonggok penis yang tegang?
Ketika berbagi pengalaman, banyak laki-laki bercerita:
“Waktu kecil saya dilarang menangis. Ibu saya marah setiap saya menangis.”
“Ayah saya berkata bahwa laki-laki tak boleh cengeng dan harus selalu tegar. Ketika nenek saya meninggal, ia menangis sembunyi-sembunyi di dalam kamar.”
“Waktu saya kecil, saya pernah cedera di tengah permainan bola. Ayah saya melarang saya berhenti bertanding, meskipun kaki saya keseleo. Saya juga harus berjalan ke tengah lapangan sendirian, padahal berdiri saja sulit.”
“Adik saya juga laki-laki. Waktu SMA, ia pernah menangis karena frustrasi. Ia kesepian dan terasing, karena saya pindah ke luar negri. Suatu ketika ia tidak bisa menahan rasa frustrasinya dan menangis di depan ayah — Dad slapped him.”
Boys don’t cry. Boys don’t cry. Are not allowed to cry.
Semua bercerita dengan pandangan yang nelangsa – seakan ada sesuatu yang terampas dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Semua bercerita dengan pandangan yang nelangsa – seakan ada sesuatu yang terampas dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
William Pollack berkata: karena laki-laki tidak boleh menjadi “banci,” kami dipisahkan dari orang tua sejak dini. Tidur terpisah. Dikirim ke sekolah musim panas. Dipaksa mandiri. Segala bentuk ekspresi emosional dikubur dalam-dalam: ketika kita terluka, ketika kita kesepian, ketika kita ingin pulang. Kita pun menjadi manusia-manusia yang sulit mengungkapkan perasaan. Manusia-manusia yang terasing.
Sulitkah berkata: Laki-laki juga manusia, seperti perempuan, seperti pembantu rumah tangga?
Badan yang cenderung lebih besar tidak otomatis menjadikan laki-laki seorang Antonio Banderas atau Chuck Norris. Terlebih lagi Arnold Schwarzenegger. Testosteron tidak mengharuskan laki-laki menjadi macho, “handy,” beringas, gemar berolah raga, bertenaga kuat, apalagi punya pekerjaan tetap dan penghasilan besar. Laki-laki sejati tidak harus heteroseksual. Menjadi laki-laki tidak berarti tidak becus mengurus anak dan mengganti popok, atau tidak bisa menjadi ayah yang lembut. Memasak dan mencuci piring tidak ada hubungannya dengan ada tidaknya rahim. Begitu juga menjadi penyayang.
Tapi kita selalu terbelenggu kodrat. Kodrat perempuan, kodrat laki-laki. Kodrat monyet. Kodrat babi. Kodrat kuda lumping dan kodrat tai kambing.
Kodrat. Kodrat. Kodrat.
Dan “menjadi perempuan” dianggap dosa yang lebih besar daripada “menjadi laki-laki.”
Cape deh.
Posted in Uncategorized | 3 Comments »