Feed on
Posts
comments

Kodrat

Mari bicara soal laki-laki.
Laki-laki, mari kita bicara. Soal kodrat.

Capek sebenarnya membicarakan kodrat. Kodrat perempuan sudah lama diperdebatkan: perempuan masak untuk suami, kodratkah? Perempuan mengurus anak, kodratkah? Kalau perempuan bekerja, lupakah ia pada kodrat? Ataukah kodrat perempuan digeser menjadi kodrat pembantu rumah tangga? Pembantu rumah tangga lantas punya dua beban: kelas bawah dan kelas perempuan. Dua-duanya, kodratkah?

Karena melelahkan perdebatan yang tidak pernah dicari ujungnya itu, mari kita bicara soal kodrat laki-laki saja. Apakah kodrat laki-laki?

Mencari nafkah, kodratkah? Menjadi kuat, kodratkah? Dingin dan beku, kodratkah? Dimasaki istri, kodratkah? Menyeleweng, kodratkah? Agresif, kodratkah?

Apakah kodrat? Kodrat itu apa?
Kode-kode genetik? Kode-kode ketuhanan yang asal-asalan?

Salah-satu subyek yang kerap mengena di pikiran murid-murid saya, terutama laki-laki, adalah ketika kita mendiskusikan soal “Kode Lelaki.” Mungkin murid-murid saya juga capek berbicara soal emansipasi perempuan – karena semua perbincangan mengenai emansipasi adalah mengenai bagaimana perempuan “mengejar” laki-laki: mengejar karier “seperti laki-laki,” mencari nafkah “seperti laki-laki.” Tapi kesenjangan yang sistematis masih saja terjadi. Diskriminasi terus ada.

Ya, betul, perempuan telah memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dilakukan laki-laki. Tapi bagaimana dengan sebaliknya? Selama ini kita hanya berlari satu arah. Seakan-akan hanya ada satu tujuan.

Ya sayang, perkenalkan: the stalled revolution.

Kenapa jarang sekali kita berbicara soal emansipasi laki-laki? Bagaimana caranya agar laki-laki bisa “mengejar” perempuan: mengurus anak “seperti perempuan,” berekspresi secara emosional “seperti perempuan.” Bersedih “seperti perempuan.” Memasak di dapur rumah “seperti perempuan.” Mencuci piring “seperti perempuan.” Tidak ada aturan yang berkata bahwa memiliki penis melumpuhkan potensi dan kemampuan seseorang untuk melakukan semua itu dengan baik.

Pembelajaran peran seperti ini masih dirasa tabu oleh masyarakat. Perempuan “menjadi laki-laki” lebih dirasa wajar daripada laki-laki “menjadi perempuan.” Mengapa?

Masyarakat menghukum anak laki-laki yang bermain boneka. Orang tua menghukum anak laki-laki yang cengeng, hanya karena ia laki-laki. Laki-laki yang dianggap feminin dihukum dengan keras – lebih keras daripada perempuan yang tomboy. Laki-laki yang feminin dianggap bukan laki-laki sejati. Padahal kita jarang berpikir: siapa yang menentukan bahwa feminin sama dengan emosional, dan maskulin sama dengan tegar dan beku?

Siapa yang mereduksi laki-laki menjadi seonggok penis yang tegang?

Ketika berbagi pengalaman, banyak laki-laki bercerita:
“Waktu kecil saya dilarang menangis. Ibu saya marah setiap saya menangis.”

“Ayah saya berkata bahwa laki-laki tak boleh cengeng dan harus selalu tegar. Ketika nenek saya meninggal, ia menangis sembunyi-sembunyi di dalam kamar.”

“Waktu saya kecil, saya pernah cedera di tengah permainan bola. Ayah saya melarang saya berhenti bertanding, meskipun kaki saya keseleo. Saya juga harus berjalan ke tengah lapangan sendirian, padahal berdiri saja sulit.”

“Adik saya juga laki-laki. Waktu SMA, ia pernah menangis karena frustrasi. Ia kesepian dan terasing, karena saya pindah ke luar negri. Suatu ketika ia tidak bisa menahan rasa frustrasinya dan menangis di depan ayah — Dad slapped him.”

Boys don’t cry. Boys don’t cry. Are not allowed to cry.

Semua bercerita dengan pandangan yang nelangsa – seakan ada sesuatu yang terampas dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

Semua bercerita dengan pandangan yang nelangsa – seakan ada sesuatu yang terampas dalam hidup mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.

William Pollack berkata: karena laki-laki tidak boleh menjadi “banci,” kami dipisahkan dari orang tua sejak dini. Tidur terpisah. Dikirim ke sekolah musim panas. Dipaksa mandiri. Segala bentuk ekspresi emosional dikubur dalam-dalam: ketika kita terluka, ketika kita kesepian, ketika kita ingin pulang. Kita pun menjadi manusia-manusia yang sulit mengungkapkan perasaan. Manusia-manusia yang terasing.

Sulitkah berkata: Laki-laki juga manusia, seperti perempuan, seperti pembantu rumah tangga?

Badan yang cenderung lebih besar tidak otomatis menjadikan laki-laki seorang Antonio Banderas atau Chuck Norris. Terlebih lagi Arnold Schwarzenegger. Testosteron tidak mengharuskan laki-laki menjadi macho, “handy,” beringas, gemar berolah raga, bertenaga kuat, apalagi punya pekerjaan tetap dan penghasilan besar. Laki-laki sejati tidak harus heteroseksual. Menjadi laki-laki tidak berarti tidak becus mengurus anak dan mengganti popok, atau tidak bisa menjadi ayah yang lembut. Memasak dan mencuci piring tidak ada hubungannya dengan ada tidaknya rahim. Begitu juga menjadi penyayang.

Tapi kita selalu terbelenggu kodrat. Kodrat perempuan, kodrat laki-laki. Kodrat monyet. Kodrat babi. Kodrat kuda lumping dan kodrat tai kambing.

Kodrat. Kodrat. Kodrat.

Dan “menjadi perempuan” dianggap dosa yang lebih besar daripada “menjadi laki-laki.”

Cape deh.

Bersyukur

Ketika membaca note seorang teman, saya tergelitik oleh sebuah komen. Tulisan teman saya bagus, dan sebenarnya sederhana saja, walau ditulis dengan gaya formal yang kadang membuat jidat saya berkerut-kerut. Ia menulis sebuah analisis mengenai hubungan individu dengan negaranya. Intinya, apa peran negara dalam mensejahterakan individu? Selama ini Indonesia kelihatannya belum bisa dikategorikan sebagai sebuah negara yang “menyayangi” rakyatnya.

Lalu seseorang berkomentar: Bersyukur saja lah. Sudah untung hidup di Indonesia. Sudah ada teknologi: sms, email, dll, lagi! Dengan kata lain, kok ngomel mulu? Lebih baik bertanya, kita sudah memberi upeti apa pada negara?

Lalu seringkali beredaran di dunia maya, pesan atau email berantai yang intinya: Syukuri hidup lah. Kalau merasa tidak senang, ingat orang lain yang menderita. Syukuri saja. Syukuri saja.

Bersyukur itu baik. Saya bersyukur akan hidup saya. Walau bersyukur kan tidak perlu kepada Tuhan. Kalau diterjemahkan ke bahasa biasa-aja-deh: ya saya senang akan hidup saya. Saya bisa makan. Bisa ngopi pagi-pagi. Saya punya pekerjaan yang saya cintai dan kucing yang saya gemesi. Saya hidup dengan seseorang yang saya ingini. Saya bisa berdiskusi dengan murid-murid yang punya begitu banyak potensi. Dan saya bisa bergaul dengan orang-orang yang saya kagumi dan sayangi. Itu saja sudah cukup membuat saya senang.

Tapi sebenarnya apa sih arti bersyukur yang diserukan orang-orang?

Ngapain protes? Bersyukur saja.
Ngapain ribut? Bersyukur saja.
Ngeluh mulu sih? Bersyukur saja.

Lucunya, “aksi” protes atau ribut itu biasanya bukan protes atau ribut soal diri sendiri. Kebanyakan protes soal sistem, ribut soal ketidakadilan, mengeluh soal masyarakat yang berantakan. Walaupun tentu saja terkadang diri sendiri menjadi bagian dari sistem yang diributi itu. Protes, ribut, dan keluhan ini juga kebanyakan bukan protes atau ribut yang asal-asalan. Tidak kosong melompong seperti anjing yang menggonggong.

Tidak usah lah saya beri rinciannya. Amati saja sendiri. Toh pembaca sudah gede, lewat masa ABG. Sudah banyak membaca, sudah pintar berpikir. Sudah bisa membedakan sebuah wacana dari rintihan ranjang.

Justru banyak keluhan lahir dari penderitaan. Penderitaan sendiri atau orang lain. Penderitaan manusia yang berkepanjangan. Jadi sungguh ironis ketika kita mengeluh tapi lantas dibungkam dengan alasan bahwa hidup kita sudah baik, negara kita punya teknologi. Maka ingatlah orang lain atau negara lain yang lebih buruk.

Aneh ya?

Rasanya kalau seperti ini kita malah menghina: Saya bersyukur saja. Tuh orang lain masih bodo, masih miskin, masih nggak bisa makan, masih nggak bisa sekolah, masih.. kaciaaannn deh. Tapi Tuhan sayang saya loh, negara menafkahi saya dengan hape-hape yang paling tokcer. Sekali pencet langsung orgasme.

Itu satu.

Dan entah mengapa, setiap kali saya mendengar seseorang mengatakan “ngapain-protes-bersyukur-saja-lah,” yang saya dengar hanyalah:

NGEGANJA YUK?!

1 Mei 2009.

Menulis Manusia

Darimanakah manusia berasal?
Dari dalam bus kota. Pada musim semi.

Kiara berdiri di sebuah halte. Di tengah pohon-pohon berwarna merah jambu. Tak ada daun. Pohon-pohon bunga yang menaburkan wewangian manis. Benih-benih alam. Angin berdesir membawa kelopak-kelopak merah jambu terbang. Melayang, melayang, lalu jatuh perlahan. Beratus-ratus, beribu-ribu kelopak terbang. Lalu tidur di hamparan rumput hijau.

Tapi halte bus itu seakan berada di dalam sebuah gelembung transparan. Tak tersentuh oleh musim semi yang menghembuskan kehidupan.

Sepasang perempuan duduk bersandar pada dinding halte. Merokok. Menatap sebatang pohon yang tumbuh di depan halte. Lelaki paruh baya berdiri di sebelah tong sampah, menggenggam sebatang tongkat. Matanya buta.

Seorang remaja perempuan mendengarkan musik yang berdentum-dentum lewat iPod. Seorang lelaki berbicara dengan iPhone-nya. Lelaki lain berkomat-kamit di ujung halte, juga pada telepon genggamnya. Perempuan lain berteriak pada Siemens-nya.

“I told you that he wouldn’t take care of our kid. That jerk. Son of a bitch. He may look like a man, but he’s not a real man. I told him: you’re not a real man. No no. You’re not a real man…. You’ve been on that shit forever. Get sober. I keep teling him: you’re not a real man. Then I said, you want to know who is a real man? Your kid’s new dad. What’s that? Of course I told him that! I said to him: This guy is the real man. He’s away — he’s in Iraq right now. But he treats us well. I still have the diapers that he bought for us before he left for Iraq. And what has that jerk done? Nothin’. No shit.”

Kiara berpaling. Lelaki yang tadi berkomat-kamit di kejauhan sekarang berjalan mendekat.

“Baby, did you just say that I’m a creep? Look — I don’t have time to talk to you, and the bus is coming. I’m gettin’ on the bus now. I won’t call you back… do you get it? What? What do you mean? You just told me that I’m a creep! What am I supposed to say? There’s no way I would talk to you. I got to get goin’ on the bus. I’m hangin’ up now, OK, baby?”

Lelaki itu benar. Bus jurusan kota A. telah datang. Semua orang beranjak. Perempuan-perempuan yang duduk kini berdiri, melempar puntung rokok dengan sekali sentil. Orang-orang mulai merongoh kantong untuk mencari uang pas atau tiket transfer. Kiara membuka kantong depan dari tas kerjanya. Setelah menemukan tiket bus, ia ikut mengantri.

Bapak tuna netra memasuki bus, menggesek tiket, dan duduk di depan. Kiara berjalan melaluinya, langsung menuju belakang, dan duduk di dekat jendela.

Dua orang remaja perempuan duduk di belakangnya. Satu bertubuh gemuk dengan rambut panjang dikuncir satu, dan satu lagi bertubuh sedang dan berambut pendek. Ketika bus sudah melaju, mereka berceloteh soal masa kecil.

Si rambut pendek berkata: “He used to call me diarrhea when we were in junior high. Hi diarrheaaaaa!!! Hi diarrheaaaaa!! Over here, diarrheaaa!” Suaranya menggema di penjuru bus.

Orang-orang melongok, tapi kemudian kembali melihat ke depan. “Oh. That’s annoying.” Sahut perempuan yang satunya lagi. Suaranya sama-sama kencang. “Well, it makes me remember something, though. When I was in third grade, this boy used to call me gorilla.”

“Oh nooo.”

“Yeaph. Because back then, I had this MESSY HAIR ON MY FACE! So he would call me, yo, GORILLA, what’s up? How’s your day, GORILLA?”

Beberapa kepala menengok ke belakang. Kiara ingin tertawa. Digigit bibirnya kencang-kencang. Ia tak boleh tertawa. Tak boleh tertawa. Tapi ia juga tak ingin tawanya menjelma menjadi kentut. Maka dibukalah mulutnya sedikit sehingga giginya tampak. Sekarang wajahnya dihiasi seringai yang aneh. Seorang lelaki berambut cepak melihat ke arahnya. Lalu kembali melihat ke depan.

“But now I’ve taken care of those hairs. I did this laser treatment.”

“Oh yes, your skin is perfect now!”

Kiara berusaha menutup pendengarannya. Tapi hidungnya mencium sesuatu. Di depannya duduk seorang lelaki bertopi, tapi rambutnya sedikit menyembul di belakang. Baunya agak menusuk hidung. Entah dari rambut atau tengkuknya. Atau kerah bajunya. Kiara memundurkan kepalanya sedikit. Tapi bau itu tetap bandel. Kiara menengok ke samping. Kebetulan ia duduk sendiri. Hidungnya mencari sedikit udara segar. Tapi kemana pun ia pergi, entah bau atau bising selalu menyertainya. Mungkin badannya sendiri juga sedikit bau.

Suara monoton seorang lelaki dewasa dari tempat duduk paling belakang tertangkap oleh Kiara. Orang itu telah berada di bus sebelum Kiara naik. Sepanjang perjalanan ia berbicara dengan telepon genggamnya.

“So, what you have to do is to plug your iPod to your computer, and then you open the music drive. Then, you can drag the documents from the iPod to your computer.”

Kiara melihat ke luar jendela. Pohon-pohon merah jambu hadir di sepanjang jalan. Beberapa dahan pohon goyang karena angin, lalu kelopak-kelopak merah jambu terbang melayang. Hujan merah jambu. Tarian merah jambu.

“No. First of all, you need to plug in the iPod to your computer. Right. Now when you open your music folder, these lists will come up. Yes. No. You have to open the music folder. Right. Just drag the list from it to your.. Just open the folder first. Right.”

Seorang lelaki berambut coklat panjang dan berkumis lebat memasuki bus. Sepasang kaca mata hitam bertengger di atas kepalanya. Ia mengenakan kaos putih dan kemeja kotak-kotak yang tidak dikancingkan. Celana jeansnya penuh dengan bercak cat dinding. Ia menjinjing kotak makan plastik serupa tas yang cukup besar. Ia duduk di samping bapak tuna netra.

Sayup-sayup Kiara masih mendengar suara-suara:

“Did you open the music folder or not?”

“This boy in fifth grade — he never talked to me. But when we met six years later, he said: do you know that I had a crush on you? I said: what? You used to pick on me all the time and now you tell me that you had a crush on me?”

“Now you can drag the list to your music folder…”

“I told you. I don’t want to talk with you. You keep sayin’ I’m a creep.”

Siapakah mereka? Siapakah aku? Kiara ingin berujar, mungkin dengan nada lantang seperti dua perempuan muda di belakangnya. Siapakah kita? Tapi ia diam saja.

Di luar jendela, Kiara melihat rumah-rumah apik berbata merah yang berjajar dengan cantik. Semua bertingkat dua dengan balkon di lantai satu. Bunga-bunga tulip mulai bermekaran di pekarangannya: merah, putih, ungu.

Kiara ingin berkata: Berhenti bicara, wahai kawanku. Biar aku bicara sekali saja. Namaku Kiara, seorang imigran. Pegawai kantor rendahan berbekal diploma. Mengurus kertas-kertas dokumen dan menyimpannya di map-map dalam laci. Membuat kopi untuk manajer. Mengantar surat ke bagian-bagian kantor. Tidak punya mobil, maka aku naik bus. Seperti kalian. Bus yang bau, yang kotor, yang diciptakan untuk orang-orang seperti kita. Orang-orang yang juga bau. Orang-orang yang tidak beruang. Orang-orang yang disisihkan.

Namamu siapa?

Aku ingin punya rumah berbata merah seperti di luar itu. Aku ingin menanam tulip di bulan April. Tapi kita tidak punya rumah. Namun kulihat kamu punya iPhones dan iPods. Berapa perak? Tiga ratus dolar? Dibayar dengan kredit? Berapa tagihan kartu kreditmu?

Mengapa kita duduk dengan tenang? Mengantuk, berceloteh, melamun? Tidakkah seharusnya kita berdiri dan menghentakkan kaki? “Siapapun bisa duduk,” kata seorang pemuda berivisi jernih bertahun-tahun yang lalu, “tapi kita harus berdiri!” Pemuda itu mati dihajar peluru di hadapan orang banyak. Apakah karena itu kita memilih untuk duduk? Karena kita takut mati?

Tapi Kiara tetap diam. Kata-kata ini mengalun dalam pikirannya, berbekas dalam hatinya, bertengger dalam paru-parunya. Keluarkan kami! Keluarkan kami! Namun Kiara mengunci mereka erat-erat dan menelan kuncinya ke dalam lambung.

Siapakah mereka? Siapakah aku? Aku adalah Kiara, dan aku adalah mereka. Kiara kembali melihat kelopak-kelopak merah jambu beterbangan di udara. Tak tersentuh.

Darimanakah manusia berasal?
Dari dalam bus kota. Pada musim semi.

Kita dilahirkan dari dalam rahim bus. Rahim yang bau dan kotor. Rahim yang menimbun kesengsaraan batin dalam-dalam dengan suara-suara bising.

Berawal dari masa penantian di halte bus. Lalu antrian panjang yang menggiring kita sepertihewan-hewan ternak. Satu-persatu masuk ke dalam rahim. Membaur. Janin manusia pun tumbuh dalam bau dan bising.

Ketika kita keluar dari liang rahim, kita melihat kelopak-kelopak merah jambu beterbangan di udara. Bunga-bunga tulip bermekaran di pekarangan orang. Tapi bau dan bising melekat di tubuh seperti kulit. Memisahkan kita dari warna dan wangi. Dari damai. Dari cahaya semi.

Lehigh Valley, PA, 2009.

Buku Ajaib

Alkisah ada sebuah buku ajaib. Buku yang menyimpan jutaan wajah. Wajah-wajah yang pernah hadir dalam hidup orang-orang yang memilikinya. Juga wajah-wajah baru yang dapat mengantarkan kebahagiaan. Sebuah buku ajaib yang menghubungkan seseorang dengan wajah-wajah itu. Sebuah buku ajaib yang kabarnya ampuh mengobati kesendirian. Dan aku punya buku itu.

Sejak aku memilikinya, aku bisa melihat berbagai wajah: wajah yang dulu pernah kutahu, wajah yang kukenal dengan baik, wajah yang sudah lama kucari. Dan wajah-wajah yang mungkin mencariku.

Seringkali aku terkesima. Di antara wajah-wajah yang terpampang dalam buku ajaibku, beberapa dari mereka telah tumbuh besar. Kami bersama ketika kami belum punya payudara. Tapi sekarang payudara mereka sudah penuh dengan air susu. Ada juga yang perutnya menggelembung seperti balon. Di dalam balon itu, menurut buku ajaib, hidup seekor makhluk kecil yang menghisap makanan dari tubuh si wajah.

Kadang aku berkerut khawatir. Masih kuingat wajah-wajah cantik ini berlarian bersamaku di sebuah lapangan. Kami bermain petak umpet. Kami bermain karet, meloncat-loncat tiada henti. Dengan payudara berisi air dan perut seperti balon, tentu mereka tidak bisa berlarian seperti dulu. Padahal, kupikir setelah kutemukan mereka dalam buku ajaib, kami akan berlarian bersama-sama lagi. Bermain karet sampai merdeka. Mereka dulu adalah juara.

Di antara wajah-wajah yang terpampang dalam buku ajaibku, beberapa dari mereka telah tumbuh pintar. Kami bersama ketika belum punya banyak inspirasi. Ketika kencing mereka belum lurus. Kami ingin menjajaki sebuah padang rumput yang terhampar luas. Setiap bagiannya. Setiap petaknya. Kami ingin menemukan daun-daun berkelopak empat yang membawa keberuntungan. Keberuntungan yang dapat menyebarkan serbuk sari ke seluruh padang. Agar bunga-bunga kuning dan putih bisa tumbuh subur. Dan kupu-kupu bisa bermain dan makan sepuasnya.

Ketika kutemukan wajah-wajah itu kembali, buku ajaib berkata bahwa mereka telah berhenti mencari daun-daun berkelopak empat. Wajah-wajah pintar yang berjalan di tempat. Wajah-wajah pintar yang berjalan di sebelah kanan, melompat dengan kaki kanan. Wajah-wajah pintar yang menemukan dua kali dua meter petak rumput yang berbunga kuning dan putih dan bersemedi komat-kamit di petak itu. Menolak untuk berjalan. Wajah-wajah pintar yang menemukan keledai-keledai tua untuk ditunggangi dan dicaci maki. Menolak untuk berlarian ke segala penjuru dengan kaki telanjang seperti ketika kami masih lugu. Ketika seringkali kami terjatuh dan lutut kami terluka. Ketika kami mengusap air mata dari masing-masing wajah yang kesakitan.

Kadang aku membuka dan membaca buku ajaib dengan penuh keraguan. Mengapa semakin kulihat wajah-wajah itu, semakin aku merasa tersingkirkan? Semakin aku merasa sendirian? Teman-teman kecilku telah tumbuh besar. Telah tumbuh pintar. Wajah-wajah yang dulu kukenal sekarang menjadi asing. Menjadi buram.

Dan aku berpikir: apakah aku sama asingnya bagi mereka? Bila mereka melihat wajahku, apakah mereka berkerut dan merasa khawatir? Apakah aku tampak kecil dan kerdil? Akulah si pemimpi yang tak kunjung tumbuh besar, tak kunjung tumbuh pintar. Yang tumbuh hanyalah rangkaian mimpi yang terus menerus kurajut.

Akulah si pemimpi yang payudaranya tak juga membengkak dan perutnya tak jua menggelembung. Karena aku masih ingin bermain karet dan berloncatan hingga merdeka.

Akulah si pemimpi yang masih berjalan dengan kaki telanjang, di atas hamparan rumput hijau. Mencari daun-daun berkelopak empat. Berlarian dan terluka lututnya. Menangis tapi tanpa air mata. Bermimpi dengan hati yang beku.

Buku ajaib mengingatkanku bahwa aku masih berjalan sendirian. Kadang dengan langkah yang terseret. Kosong. Tapi langit di atasku masih biru, dan rumput di bawah kakiku masih hijau. Mimpi masih ada. Masih kurajut dengan seksama. Walau kadang tanganku terlalu dingin dan benang-benang mimpi bisa menjelma menjadi jarum-jarum panjang.

Suatu saat, bila perutku juga menggelembung seperti balon, akan kuselimuti si makhluk kecil dengan rajutan mimpi. Semoga wajahku tak akan pernah asing baginya.

Maret 2009.

Thank You

Kami telah bercinta dengan bahagia, walaupun dibayangi oleh sebuah sistem yang heterosexist dan patriarkal. Tetapi kami bercinta, dengan bahagia. Berdua saja.

Namun saat ini, kami tidak berdua. Saat ini, kami diingatkan bahwa ada serentetan sejarah yang kami bawa ketika kami bersama. Dan bagi saya, sejarah ini bernama keluarga dan sahabat.

Terima kasih, Papa dan Mama. Bukan hanya karena membesarkan, tapi juga membiarkan. Membiarkan saya berkelana. Membiarkan saya mengalami. Membiarkan saya melawan. Membiarkan saya belajar bahwa ide tidak bisa tidak diperjuangkan. Terima kasih sudah menjadi pengacara yang handal, yang selalu membela saya dari mereka yang tidak pernah mempertanyakan Tuhan. Tanpa Papa dan Mama, saya hanyalah seorang anak yang membosankan: yang tidak pernah bertanya dan tidak pernah menggugat. Tidak pernah tahu apa arti adil dan apa arti bahagia.

Terima kasih, keluarga terdekat saya. Yang telah berbenturan dengan kepala saya yang keras berulang kali tetapi tetap sayang.

Dan terima kasih, teman. Sahabat-sahabat yang tidak pernah sungkan untuk membuka: Membuka pikiran, membuka jiwa, membuka telinga, dan membuka pintu kos mereka untuk saya ketika saya gelisah. Dulu, ketika kami masih muda. Mereka yang selalu bertanya bersama-sama dengan saya: Is Marx more real than God? Is Nietzsche to be trusted? Mengapa kita hidup? Mengapa kita mencari? Mengapa manusia memaknai? Mereka yang mengetahui, apa makna sakit hati dan apa makna jatuh cinta. Mereka yang tidak pernah lelah membahas: apakah segala yang absolut harus dihancurkan?

Terima kasih Papa dan Mama, terima kasih kerabat, terima kasih sahabat. Maafkan ketika saya egois, ketika saya menjauh, ketika saya menyendiri, ketika saya menghilang.

Karena semua, saya bisa menemukan kekasih yang tepat. Kekasih yang tidak sungkan berbagi hidup dan berbagi makna. Kekasih yang mengingatkan saya akan kalian – akan hidup yang saya puja.

Thank you all for letting us grow

Thank you, thank you, for the lives that glow.

Bandung, 3 Januari 2009

– Intan Suwandi –

Berduka

Turut berduka cita atas disahkannya RUU (pro-black-market) Pornografi. Saya kehabisan kata-kata.

… called friends.

Cannot work today due to my injured back. Therefore I’m wasting my dollars as I’m sleeping and eating and shitting and sipping coffee the whole morning. So, what the heck. I may as well waste my time reading old emails again.

I’ve met great intellectual people who can make me laugh till my stomach hurts, right here, in the “liberty” land. They are from all over the world and have been in many places. We can sit outside when it’s freezing and finish 4 bottles of wine. While making fun of everything we know, including ourselves. I cherish every moment I become a nut case with them.

But at this age, with all these “labels” attached to us — “Ph.D. candidate”, “Master,” “scholar,” and “college professors” — somehow there is something missing in our conversations. In us. We surely do not take those labels seriously; we ridicule ourselves so much that it is obvious that we are never proud of what we have achieved. But still, with all our “experience,” we can never meet and talk as naive students who want to conquer the world. We can no longer be brave and say that we are “slaves of love.” We never say that we listen to cheesy romantic songs with pink, bleeding hearts.

We have lost that “idealism” somewhere, a long time ago. Now there are only cynicism and criticism. Now there is this huge awareness that no matter what you do to please yourself or to fuck the status quo, you’re still constrained. You’re still a part of the world. It’s not really fatalism. But it surely is more depressing sometimes. Hence the bottles of wine.

So, going back to the old emails business. I’ve read more old emails (dated 2002-2005), all sent by my Indonesian friends. Those who stayed with me through the deepest jurang and the highest angan-angan. It’s just amazing to see that my dear old friends, just like me, were once full of ideals. Full of dreams. Full of rebellious spirit. Perhaps that was the beauty of living in a restless place where comfort should be searched for. That was the beauty of being the “third world rebels.” Until we finally know too much. Until we’ve finally become the wage laborers and had rings on our fingers. Until we’ve finally become cynical. Or perhaps, it’s just me. Perhaps, my old friends are still as idealistic as ever. Humming cheesy tunes with pride. And I certainly hope so.

I’ll drink to that when I open another bottle of red: Cheers!

***

Pertanyaan saya banyak yah? tapi setidaknya saya tidak bertanya apakah kamu masih memiliki (atau DIMILIKI) cinta karena saya yakin kamu tetap intan dengan sejuta C: Cinta. Saya tertarik untuk mengamati peranan CINTA dalam kehidupan teman-teman “gila” saya. Umumnya mereka memiliki penghayatan Cinta yang teramat sangat begitu intens. Bila otak mereka dibedah maka saya yakin warnanya merah jambu. Cinta mereka begitu intens, dangdut dan terkadang cenderung utopis. Mereka sering kali memandang cinta sebagai sebuah mahluk mulia yang tak terkalahkan. Mungkin di situlah kelebihan mereka: In love they trust. (August 2002).

tuhan adalah candu?…ya…kita harus memiliki candu di dunia ini,harus!!…dan cinta (tuhan) adalah pilihan [saya]…tetapi bukan agama, dirisendiri, pacar, alkohol.. (November 2004).

oh ya mau crita sedikit, gua disini mulai membentuk band impian sendiri, dan mulai belajar menulis lagu, i wish u could hear it… (May 2004).

Tau apa yang gw suka dari rokok? Bukan rasanya (karena sampe sekarang gw gak tau enaknya di mana) sih, tapi bunyi cengkeh kebakar. Kretek-kretek-kretek…gitulah. Makanya gw suka ngerokok di tempat sepi. Bunyi kretek itu terdengar magis, entah kenapa. Aneh ya…ngerokok itu rasanya gak enak, tapi suaranya terdengar begitu mistis, hahahaha…. (September 2005).

hemmm gua udah pernah crita kalo gua harus menyediakan waktu gua setiap malam, sebelum tidur untuk menghayal..yang kebanyakan malah nyakitin diri sendiri, tp membuat gua merasa tenang…masochist?? hell don’t care. (September 2002).

Tentang kabar saya, bila harus menulis dengan satu kalimat saya akan menulis: Saya punya kehidupan yang menarik. Hari yang paling menarik adalah hari ketika saya seharian bareng teman-teman pemakai kemudian malamnya ngobrol bareng teman gila di LSM sambil makan pecal lele sampai jam 23.00 di pinggir jalan Pasar Minggu, terbang ke langit setelah seharian lelah berjalan di bumi. (September 2002).

Paul Ricoeur bilang,”lu diem-diem melakukan distansiasi (memberi jarak pada diri) melalui appropriasi (memahami diri sendiri), dari situ lu bisa kritis terhadap realitas yang ada…” Gue pembaca paham, lu tidak sekadar menceritakan diri sendiri, tetapi berkaitan sama apa yang terjadi di sekeliling kita dan kagak akan bisa dipungkiri… banyak orang juga mengalami. Gue pikir laki-laki bisa ikut merasakan perasaan perempuan kalau penulisan lu kayak gitu. (Agustus 2003).

kata orang sih, setiap kejadian itu pasti ada hikmahnya…tapi udah 8 hari ini gua belum tau apa hikmah gue kerja di sini hehe… (February 2005).

Btw, Balubur skrg dari ujung sampe capcay udah rata dg tanah lho….jadi kerasa banget panas dan berdebu….suka ngomel2 gua, kalo lewat pas siang. Trus buku elo udah hampir kelar gini….bukannya nambah keimanan tp tambah bias aja pandangan gua tentang semua agama…hehe… (February 2004).

Justru sampe skr g msh nginget2 elo…. Engga ada deh ce yg bs kayak elo….(yg gilanya kayak elo) hahahaa…. (January 2004).

Such a sentimental day. A best friend just crossed over the ocean. So far away. And we don’t deserve a goodbye.

I rampaged through my old emails, and found so many emails from my good Indonesian friends. Most of them are gone. They got married, and so did I. They went away to different continents. And so did I. They are busy with their new thoughts, new routines, new slavery, new friends, new joys, new goals, new meanings. And so am I.

I read the emails and thought to myself: how can I describe these feelings? This awareness that some darn good things have happened and then gone. That some parts of my youth have disappeared — the early twenties of exploration, of rebellion, of quest. The only thing left is this electronic archive of words and love. Of hope and longing. Of a present that thought that it would be eternal.

***

Here are some quotes that made me nostalgic:

“Kemaren baru aja ujian gw. Jam 09 pagi. Udah tinggal nunggu hasil. Disuruh bedoa sama dosen gw. Gw bilang (dalam hati sih): Bedoa pada siapa?”

“Kita bukanlah tabula rasa lagi. Kita sudah kaya dengan pengalaman dan harapan yang akan kita gunakan untuk memaknai sebuah realitas obyektif. Dan bukankah ada kalanya yang lebih penting dan berperan dalam hidup kita adalah penghayatan yang subyektif dan bukannya realitas obyektifnya?”

“Ada satu lagi koreksi yang baik darimu bahwa kecerdasan bukanlah kompensasi begitu pula kegilaan.”

“Nangis di pesawat? Gue juga merasa kosong waktu makan es duren sama koala di Gading Batavia
baru-baru ini. Liat kafe Kalaha kayaknya garing nggak ada lo. Juga tukang parkir yang suka ngajak berantem.”

“Gue sendiri curi-curi waktu buat baca buku, soalnya gue merasa semakin hari semakin bodoh.
Mungkin suasana yang tertekan ini yang menjadi inspirasi komunis. Gue rasa kalau kepercayaan dan
penghargaan ada, tidak perlu ada perlawanan dari bawah ke atas.”

“Kuliah tuh emang gitu lagi tan…..walaupun merepotkan dan bikin jengkel (apa sih tujuan dan maksudnya) tapi ngangenin nantinya…..karena kita dibiasakan dg hal2 yg berat……spy otak kita ter-upgrade scr gak sadar….. hehehe
Tapi bener lho….g masih kangen saat masih kuliah…..daripada sekarang…
harus memulai segalanya dari nol….mereposisi keinginan…..merubah perbendaharaan/kosa kata baru spy sesuai dg lingkungan yg baru…dan mencoba planning mau kemana sih gua…dan akhirnya hanya berusaha menapakinya dengan penuh kebosanan…..stress…. kesepian…. dihina….dilecehkan….lumpur gelap…..hitam….dan ngomel2 spt saat ini…..”

“Waaah jangan gitu donk dg mantan elo….tega amat elo Tan.
mereka kan juga punya otak…..tapi otak udang..hehehe….”

“Jika orang berkata bahwa dibalik keberhasilan seorang laki-laki pasti ada perempuan hebat yang mendukungnya. Saya tentu saja tidak dapat berkata, selain karena saya adalah jomblo abadi hingga hari ini, juga karena takut diprotes sama kontributor Jurnal Perempuan. Jadi biarlah saya berkata bahwa dibalik keindahan yang saya dapatkan, selalu ada sahabat-sahabat yang menopang sayap saya untuk tetap terbang tinggi.”

“Gue lagi mabok neh,
Gue abis makan es duren, nyam, nyam.
Enak, enak, enak.
Kapan lo pulang ke sini, lama banget seh.
Nggak sabar ketemu elo lagi di kelapa gading.
Berantem sama tukang parkir (kenapa selalu tukang parkir?)”

“Bikin Buku dong!
MENERTAWAKAN POLIGAMI BERSAMA INTAN SUWANDI
Pasti banyak yang ngamuk, terus elo dituduh lebih
subversif daripada komunis…
Gitu dong! Itu baru radikal!!!”

“eh, tapi loe sendiri disana gmana? masih kuat kan? masih tahan kan?”

“Pertanyaan terakhir deh: Kenapa Nihilisme ada? Kenapa Tuhan-tuhan harus dibunuh? Mungkin gue harus ngerti dulu kenapa nilai atau kebenaran yang kita pegang sudah mengarah ke Absolut harus ditinggalkan?”

“I had more miserable times thinking about love and
trying to make it reality than not doing anything
about it. The best love experience i’ve ever had
probably was listening to those sappy heart-breaking
songs (note: try listen to michael buble’s latest
album and you’ll know what i’m sayin’). By any
dictionary, I’m closer to what so called infatuation
experiences rather than love… hahaha
But life’s all good… can’t complain about it… had
no one to complain either even if i felt i had to…
(i tried god, it didn’t work… hahahaha)”

“dan sekarang saya udah jadi pengangguran, it become very sensitive when people ask about what i’m workin on..its not like they ask about my activities rite now, but they just wanna know where i’m working at, which company, how much salary???? huuuhhhh kenapa si mereka nga bisa membiarkan gua istirahat dulu….fuck’em (told u im sensitive with this hehe) gua kecapean,muak dengan institusi, baik pendidikan maupun pekerjaan….saya juga mau ber-aktualisasi diri seperti si intan…knowing who i am now, my trully concern, and my future….yah seperti pingin mundur setengah langkah dulu supaya bisa tau bener-bener tujuan saat maju nanti…”

“Tau gak? Dibalik Kelegaan itu ternyata ada
kekhawatiran tentang masa depan. Mau ngapain lagi ya
gue? Gimana ya masa depan gue? And segudang
pertanyaan laen yang gue sendiri ga tau gimana
ngejawabnya. Keinginan sih ada n banyak tapi gue bolm
tau yang mana yang memang pengen gue jalanin.
Wisuda buat gue ternyata cuma sebuah persimpangan
besar, tepatnya persimpangan yang didalamnya akan
ada banyak tikungan dan persimpangan2 lainnya.
Mhm…is this the real life?
Yach… sudahlah, kita lihat aja nanti gimana gue
melalui persimpangan ini dan juga persimpangan2 lainnya.”

Mengajar

Saya dan Eli sekarang memulai perjalanan menjadi dosen. Kami mengajar community colleges, tempat belajar bagi penduduk lokal yang biasanya tidak punya akses atau biaya untuk pergi ke four-year institutions. Sebagian datang untuk menghemat biaya sementara, sebelum transfer ke universitas atau college lain.

Saya mengajar sosiologi, Eli mengajar filsafat. Bagi saya, mengajar di sebuah community college adalah sebuah perubahan besar. Pengalaman akademis saya di sini bermula dari sebuah liberal arts college di Florida yang sangat tidak konvensional dan cenderung radikal. Sekolah yang saya idamkan. Kemudian saya memulai graduate study di LU, di mana beasiswanya mengharuskan saya untuk mengajar undergrads. Saya memang belajar dengan gratis, tetapi untuk para undergrads, LU adalah sebuah tempat di mana tuition mencapai lima puluh ribu dollar per-tahun, dan standar SAT dan GPA-nya sangat tinggi. Tetapi murid-murid saya kesulitan berbicara soal isu-isu sosial. Mereka terbiasa disajikan berbagai macam kesempatan dan benefits sehingga tidak mengenal persoalan-persoalan yang harus dihadapi orang-orang yang bukan seperti mereka.

Sebuah community college bukanlah kedua sekolah tersebut. Tidak ada yang radikal dari community college; mahasiswa saya yang sekarang terkekang oleh birokrasi dan tuntutan untuk mencapai karier yang lebih baik, sehingga penghasilan mereka dapat meningkat. Tetapi di sisi lain, mahasiswa saya bukan anak-anak yang terbiasa dengan kemewahan dan benefits. Tidak ada tutor yang menjamin hasil SAT yang excellent; tidak ada private high schools yang berkualitas tinggi sebelum mereka datang ke college. Mahasiswa saya sekarang adalah orang dewasa yang tidak asing dengan keterbatasan, bahkan kemiskinan. Mahasiswa saya sekarang tidak datang ke kampus dengan berbagai merek melekat di tubuh. Tidak ada Prada, Coach, LV, Uggs, dan Vera Bradley. Tidak ada mobil mewah di tempat parkir. Halte bis di depan kampus dipadati oleh mahasiswa setiap jam-nya. Dan saya senang menunggu bis bersama mereka.

Yang menarik, saya belum pernah mendapatkan pengalaman bergaul bersama  undergrads seperti sekarang. Ketika di Florida, percakapan dengan sesama mahasiswa terasa sangat idealis. Kami seringkali bicara soal teori atau bagaimana cara "mengubah" masyarakat. Di grad school, murid-murid saya hanya berbicara soal exams dan nilai. Atau pergaulan di sekitar kampus. And I couldn’t stand their rich-brat accents.

Mahasiswa saya yang sekarang bicara soal bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu tanpa partner yang mengambil enam kelas dan kerja shift malam secara bersamaan.  Mahasiswa saya lancar berbicara soal bagaimana public issues mempengaruhi hidup mereka sebagai individuals. Mahasiswa saya bertanya, walaupun terkadang mengacuhkan etiket berkomunikasi dalam setting akademis. Tetapi mereka ingin tahu, mereka ingin belajar.

Kesulitan saya adalah memberikan mereka kesempatan yang sama dengan murid-murid saya di LU tanpa membebani mereka terlalu berat. Saya ingin mereka bisa menulis paper dengan baik, dan saya juga ingin mereka bisa berbicara dengan fasih soal teori. Tapi saya sadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa memiliki cukup waktu dan kesempatan untuk mendapatkan training yang memadai. Sebagian murid saya tidak memiliki komputer di rumah. Sebagian bahkan tidak punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama si buah hati. Dan saya dengar, tidak jarang bahwa mahasiswa di college ini tidak tahu bagaimana menulis paper akademis sama sekali.

Saya bisa saja mengacuhkan tugas menulis paper. It would be easy for both my students and I. Tapi saya balik bertanya, mengapa mereka tidak diberi kesempatan, setidaknya untuk mencoba? Saya tidak mau mahasiswa saya menyelesaikan kelasnya tanpa tahu bagaimana caranya menulis, atau tanpa pernah membaca artikel jurnal sosiologi. Dan terlebih lagi, saya ingin mereka terlatih untuk fasih berpikir mengenai masyarakat dan dunia.

Pada pertemuan pertama, saya berkata: "Saya tidak ingin kalian menjadi Ivy League students. Mereka tidak bisa berpikir. Mereka selalu dicekoki oleh sistem yang menyajikan mereka berbagai kemudahan dan mendikte mereka soal apa yang harus mereka capai dalam hidup. Saya ingin kalian berpikir lebih baik dari mereka. Dan saya tahu bahwa kalian bisa."

Ketika saya mengatakan kalimat itu, saya hanya dibekali kepercayaan bahwa mahasiswa saya lebih baik dari anak-anak yang terlahir di keluarga intelektual kelas atas. Saya belum mengenal mereka saat itu. Tetapi sejauh ini, mereka telah membuktikan bahwa mereka adalah seperti yang saya harapkan. Setidaknya mereka menerima tantangan saya untuk berani berpikir. Dan bukankah ini harapan terbesar seorang guru?

P.S. Sudah lama saya tidak menulis dalam Bahasa. Aneh ya, tulisannya? =)

That Touch

Is there a name for a touch so trusting, yet so brief and discreet? A touch given by his hand to your hand within that particular moment — a second or two. A touch that then disappeared for good without your permission.

He was someone who was not yours, and didn’t have any reason to be yours.  And it wouldn’t make any sense for you to be by his side. His existence was a soft, pastel color in your rainbow life, hidden between bright red, yellow, and green. Nowhere to be discovered. No space to be desired. But you remember that touch. The second in your episodes of surprises. He touched your hand firmly, confidently, suggestively. It seems that the touch tricked you for a very short duration — letting you believe that you didn’t want him to let you go. But it ended, and you were relieved that it did.

What is the name of the touch? Could it have been love? Love so primitive that you can’t recognize? Love so brief that it doesn’t qualify? Love so vague that you can’t understand? But you remember vividly. You remember when it was, who it was, where it was. You just can’t figure out why.

Older Posts »